Keguguran Berulang, Dokter Sarankan Evaluasi Rongga Rahim lewat Histeroskopi

Table of Contents

Terkini.net - Keguguran merupakan pengalaman yang berat bagi banyak pasangan. Ketika kejadian itu terulang lebih dari satu kali, pertanyaan yang muncul pun semakin banyak. Apa penyebabnya, apakah ada yang salah dengan kondisi rahim, dan apakah kehamilan berikutnya bisa berjalan lebih baik?

Keguguran berulang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kelainan kromosom atau genetik, kondisi tertentu pada rahim, gangguan hormon atau tiroid, serta beberapa kondisi imunologis. Pada sebagian pasangan, penyebabnya tetap tidak dapat ditemukan meskipun sudah dilakukan evaluasi. Faktor struktur rahim inilah yang kerap luput diperiksa. Penelitian menunjukkan bahwa kelainan bentuk rahim lebih sering ditemukan pada perempuan dengan keguguran berulang dibandingkan populasi umum. Dalam opini komite ASRM 2026, kelainan rahim bawaan ditemukan pada sekitar 13,3% perempuan dengan recurrent pregnancy loss, dibandingkan sekitar 5,5% pada populasi umum. Salah satu kelainan bawaan yang penting diperhatikan adalah rahim bersekat atau septate uterus, yaitu adanya jaringan yang membagi rongga rahim.

Untuk menilai kemungkinan tersebut, pasien dapat menjalani evaluasi histeroskopi di dokter obgyn jakarta pusat dokter dapat melakukan evaluasi rongga rahim menggunakan pemeriksaan seperti USG 3D, saline sonography, HSG, atau histeroskopi, sesuai kondisi pasien. Histeroskopi memungkinkan dokter melihat langsung bagian dalam rongga rahim dan dapat membantu menemukan kelainan seperti polip, miom yang menonjol ke dalam rongga rahim, atau perlengketan.

Langkah ini biasanya didahului dengan konsultasi dengan dokter kandungan di Jakarta untuk meninjau riwayat kehamilan, hasil pemeriksaan sebelumnya, serta menentukan pemeriksaan apa saja yang paling relevan bagi pasien.

Mengapa Kondisi Rongga Rahim Penting?

Rongga rahim adalah bagian dalam rahim tempat embrio menempel pada lapisan endometrium dan kemudian berkembang selama kehamilan. Bila bentuk rongga rahim atau lapisan di dalamnya mengalami kelainan tertentu, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan implantasi atau meningkatnya risiko keguguran pada sebagian pasien. Beberapa kelainan rongga rahim yang dapat berkaitan dengan keguguran berulang antara lain:

  • Sekat rahim atau septate uterus, yaitu adanya jaringan yang membagi sebagian atau seluruh rongga rahim menjadi dua bagian.
  • Miom submukosa, yaitu miom yang tumbuh di bawah lapisan rahim dan menonjol ke dalam rongga rahim.
  • Polip endometrium, yaitu pertumbuhan jaringan dari lapisan dalam rahim, terutama bila ukuran atau lokasinya mengubah rongga rahim
  • Perlengketan di dalam rahim, misalnya setelah tindakan kuret berulang

Kondisi-kondisi ini tidak selalu menimbulkan gejala sehingga sering baru diketahui saat pasien menjalani evaluasi setelah beberapa kali keguguran.

Kelebihan Histeroskopi dalam Evaluasi Rahim

Menurut artikel histeroskopi dari dr. Sita Ayu Arumi, histeroskopi dilakukan dengan memasukkan teropong tipis berkamera melalui vagina dan leher rahim, tanpa sayatan di perut. Pemeriksaan ini memberikan gambaran langsung rongga rahim sehingga membantu dokter melihat detail yang terkadang tidak terlihat jelas melalui USG.

Pada kondisi tertentu, histeroskopi dapat digunakan untuk pemeriksaan sekaligus penanganan. Misalnya, jika ditemukan polip atau sekat rahim, dokter dapat mempertimbangkan untuk menanganinya dalam tindakan yang sama. Namun, hal ini bergantung pada jenis kelainan, kondisi pasien, serta persetujuan pasien sebelum tindakan.

Meski demikian, opini komite American Society for Reproductive Medicine (ASRM) 2026 mencatat bahwa penanganan kelainan bawaan rahim tampak memberi manfaat, tetapi belum sepenuhnya menghilangkan risiko keguguran, sehingga keputusan tindakan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Pemeriksaan Lain Tetap Diperlukan

Histeroskopi bukan satu-satunya pemeriksaan untuk keguguran berulang. Dokter umumnya akan melakukan evaluasi menyeluruh karena penyebabnya bisa lebih dari satu. Pemeriksaan yang dapat dipertimbangkan sesuai riwayat dan kondisi pasien antara lain:

  • Pemeriksaan fungsi tiroid.
  • Pemeriksaan antibodi tertentu untuk menilai kemungkinan sindrom antifosfolipid, yaitu kondisi autoimun yang dapat meningkatkan risiko keguguran.
  • Pemeriksaan kromosom pada jaringan kehamilan yang mengalami keguguran atau pada pasangan, bila ada indikasi.
  • Pemeriksaan bentuk rahim, misalnya dengan USG transvaginal tiga dimensi atau histeroskopi.

Dengan pendekatan menyeluruh, penyebab keguguran dapat ditelusuri lebih tepat, meski perlu dipahami bahwa pada sebagian kasus penyebabnya tetap tidak dapat ditemukan secara pasti.

Kapan Sebaiknya Mulai Evaluasi?

Pasangan yang mengalami dua kali keguguran atau lebih dapat mulai berkonsultasi untuk membahas perlunya evaluasi. Pemeriksaan dapat dimulai lebih awal jika terdapat faktor risiko atau kekhawatiran tertentu. Evaluasi sebelum kehamilan berikutnya memberi kesempatan bagi dokter untuk menemukan dan menangani faktor yang masih bisa diperbaiki. Dukungan emosional juga sama pentingnya, karena keguguran berulang dapat memberi beban psikologis yang besar bagi pasangan.

Apa yang Terjadi Saat Histeroskopi?

Sebelum tindakan, dokter akan menjelaskan tujuan pemeriksaan, jenis pembiusan yang akan digunakan, serta kemungkinan tindakan lanjutan bila ditemukan kelainan. Histeroskopi diagnostik biasanya dijadwalkan setelah haid selesai, ketika lapisan rahim masih tipis sehingga rongga rahim lebih mudah diamati. Namun, waktu tindakan dapat disesuaikan dengan siklus menstruasi dan kondisi pasien.

Dalam artikel Perbedaan Teknik Bedah: Jenis Operasi, Prosedur, Bius, dan Waktu Pemulihan dari dr. Sita Ayu Arumi, disebutkan bahwa Sebagian tindakan histeroskopi dapat dilakukan sebagai prosedur rawat jalan dengan anestesi lokal atau sedasi. Jenis pembiusan dan kebutuhan rawat inap bergantung pada jenis tindakan, kondisi pasien, serta kebijakan fasilitas kesehatan.

Saat tindakan, teropong berkamera dimasukkan perlahan melalui leher rahim, lalu rongga rahim dikembangkan menggunakan cairan agar dindingnya terlihat jelas di layar monitor.Dokter kemudian mengamati bagian dalam rongga rahim, termasuk permukaan dinding rahim dan area tempat saluran telur bermuara. Setelah tindakan, sebagian pasien dapat mengalami kram ringan atau bercak darah selama beberapa hari. Keluhan ini biasanya membaik dengan sendirinya. Namun, segera hubungi dokter jika mengalami demam, nyeri perut yang berat atau semakin parah, perdarahan banyak, atau cairan vagina yang berbau tidak biasa.

Dukungan psikologis juga sebaiknya tidak dilupakan selama proses evaluasi. Menunggu hasil pemeriksaan setelah beberapa kali keguguran dapat menimbulkan rasa cemas, sedih, bahkan menyalahkan diri sendiri. Pasangan dapat membicarakan perasaan ini dengan dokter atau tenaga profesional agar proses yang dijalani terasa lebih ringan.

FAQ

Apakah histeroskopi aman bagi perempuan yang masih ingin hamil?

Histeroskopi dapat digunakan untuk memeriksa dan menangani kelainan di dalam rongga rahim pada perempuan yang masih merencanakan kehamilan. Tindakan ini umumnya tidak memerlukan sayatan di perut, tetapi tetap memiliki risiko. Dokter akan menjelaskan manfaat dan risikonya sesuai kondisi pasien.

Apakah sekat rahim bisa ditangani tanpa operasi terbuka?

Sekat rahim tertentu dapat dipotong melalui histeroskopi operatif tanpa sayatan di perut. Namun, keputusan untuk melakukan tindakan bergantung pada bentuk sekat, riwayat kehamilan, dan kondisi pasien. Manfaat tindakan dalam mencegah keguguran juga belum dapat dipastikan untuk semua pasien.

Berapa kali keguguran sebelum perlu evaluasi menyeluruh?

Evaluasi keguguran berulang umumnya mulai dipertimbangkan setelah dua kali keguguran. Namun, dokter dapat menyarankan pemeriksaan lebih awal sesuai riwayat kehamilan dan faktor risiko pasien. Namun, pasangan yang merasa khawatir tetap dapat berkonsultasi lebih awal, terutama bila ada faktor risiko lain.

Penutup

Keguguran berulang perlu dievaluasi secara menyeluruh, dan kondisi rongga rahim adalah salah satu aspek yang tidak boleh terlewat. Histeroskopi membantu dokter melihat kelainan di dalam rongga rahim, seperti sekat, polip, miom yang menonjol ke rongga rahim, atau perlengketan. Pada kondisi tertentu, kelainan tersebut juga dapat ditangani melalui tindakan yang sama. Namun, tidak semua kelainan menjadi penyebab keguguran, dan penanganannya tidak selalu dapat mencegah keguguran berikutnya. Evaluasi menyeluruh membantu pasangan memahami kondisi yang mungkin memengaruhi kehamilan selanjutnya.

Zahra A.
Zahra A. jurnalis berita media online

Posting Komentar